Header Ads

Wisata Sejarah Limapuluh Kota, Dari Alam Hingga Religi


Nagari Mahat atau biasa disebut Maek oleh masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota, provinsi Sumatera Barat 

Limapuluh Kota – Nagari Mahat atau biasa disebut Maek oleh masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota, provinsi Sumatera Barat, nagari ini merupakan satu dari sekian objek wisata sejarah yang dimiliki daerah tersebut. Aktifitas masyarakat yang ramah di lekukan barisan bukit itu membawa kita berasa di perkampungan lama. Masih ada pasar tradisional tempat berjual beli serta rumah adat pesukuan Minangkabau di daerah yang penduduknya banyak menjadi petani gambir dan pinang itu.

Dalam prospektif kultur Minangkabau, kabupaten ini termasuk daerah yang telah didiami sejak berabad-abad lalu. Ini dibuktikan oleh keberadaan ribuan menhir (nisan-nisan kuno) dan jejak-jejak peninggalan kebudayaan masa lalu, yang tersebar hampir di setiap wilayahnya. Daerah ini sangat kaya berbagai peninggalan masa lalu.

Selain suguhan keindahan alam yang membentang Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan memang dikelilingi oleh perbukitan. Bukik posuak (berlobang) memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan pecinta alam lokal maupun luar negeri.

Untuk wisata sejarah, Kabupaten ini pernah menjadi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) ditandai dengan berdirinya monumen nasional di Nagari Koto Tinggi berikut masih berdirinya rumah pertemuan para tokoh PDRI di Tobek Godang, Padang Jopang, Kecamatan Guguak. Limapuluh Kota juga melahirkan tokoh-tokoh hebat bagi keberlangsungan dan mempertahankan kemerdekaan. Salah satu nya Ibrahim Datuak Tan Malaka atau di Kenal dengan Tan Malaka, lahir di Pondam Godang, Kecamatan Gunuang Omeh merupakan konseptor Republik Indonesia, tokoh revolusioner sekaligus penulis Naar De Republiek Indonesia atau Menuju Republik Indonesia). Menurut sejarah buku itu ditulisnya di Canton, April 1925, waktu dirinya dibuang imperialis Belanda dari negerinya ke China.

No comments